top of page

Tanpa Berkah, Berlimpah Terasa Susah. Membaca The Barakah Effect: More With Less karya Mohammed Faris

20 jam yang lalu
9 menit membaca

(Ulasan oleh: Faris Irfanuddin, penerjemah “Konsep Tanah Suci dan  Barakah dalam agama Islam, Yahudi, dan Kristen”  Tesis Master Abu Ubaidah-ISA)


Tanpa berkah, yang berlimpah terasa kurang. Tanpa berkah, waktu terasa lekas berlalu. Tanpa Tanah Barakah, umat kehilangan izzah. Barakah memang sedemikian berdampak!

Kalimat-kalimat itu terlintas ketika saya membaca The Barakah Effect: More With Less, sebuah buku karya Mohammed Faris yang mengajak kita melihat kembali sesuatu yang barangkali terlalu sering kita ucapkan, tetapi belum sungguh-sungguh kita jadikan cara hidup: keberkahan.


Selama ini, kita mungkin memahami keberkahan sebagai doa agar rezeki bertambah, waktu terasa cukup, keluarga menjadi sakinah, atau pekerjaan menghasilkan manfaat. Namun, bagaimana jika barakah bukan sekadar sesuatu yang kita harapkan hadir di akhir sebuah usaha, melainkan prinsip yang seharusnya menentukan bagaimana kita memulai, menjalani, dan mengakhiri usaha itu sendiri?


Pertanyaan inilah yang membuat buku ini menarik. Terlebih bagi saya yang selama ini bergelut dengan isu Baitul Maqdis—Tanah Barakah yang memiliki kedudukan istimewa dalam kesadaran umat Islam. Membaca buku ini akhirnya bukan hanya membawa saya pada pertanyaan tentang produktivitas, tetapi juga tentang budaya hidup seperti apa yang semestinya dibangun oleh umat yang memiliki keterikatan dengan Tanah Barakah.


Dari dunia keuangan menuju kegelisahan tentang keberkahan


Mohammed Faris bukan seseorang yang sejak awal menempatkan diri di luar dunia produktivitas modern. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang keuangan dan investasi, lalu memasuki dunia profesional yang akrab dengan target, kinerja, pencapaian, dan ukuran-ukuran keberhasilan yang terukur.


Pengalaman ini penting untuk memahami mengapa ia kemudian menulis tentang keberkahan.


Ia tidak sedang menolak kerja keras dari luar sistem. Ia justru mengenal sistem itu, memahami tuntutannya, dan menyaksikan bagaimana manusia di dalamnya berusaha mencapai lebih banyak hal dalam waktu yang semakin terbatas.


Di dunia profesional, keberhasilan kerap diterjemahkan ke dalam angka. Berapa banyak pekerjaan yang diselesaikan? Seberapa tinggi pendapatan yang diperoleh? Seberapa cepat karier berkembang? Seberapa besar target yang berhasil dicapai?


Tidak ada yang salah dengan bekerja secara profesional, memiliki target, atau berusaha meningkatkan kualitas hidup. Persoalannya muncul ketika semua itu menjadi ukuran utama keberhasilan. Sementara pertanyaan tentang makna, ketenangan, hubungan keluarga, pengabdian, dan tujuan akhir kehidupan perlahan tersisih.


Manusia akhirnya bisa sangat sibuk, tetapi tidak selalu merasa cukup. Ia bisa mencapai banyak hal, tetapi terus merasa tertinggal. Ia bisa memiliki lebih banyak sumber daya, tetapi tetap merasa kekurangan waktu.


Di sinilah kegelisahan Mohammed Faris menemukan bentuknya. Jangan-jangan, persoalannya bukan semata-mata karena manusia kekurangan waktu, tenaga, atau kesempatan. Jangan-jangan, ada sesuatu yang hilang dari cara kita memahami dan menjalani kehidupan.


Sesuatu itu bernama barakah.


Ketika budaya kesibukan berhadapan dengan budaya keberkahan


Salah satu bagian menarik dari perjalanan pemikiran Faris adalah pengalamannya memperkenalkan gagasan Barakah Culture di lingkungan korporasi.


Dalam sejumlah pengalamannya memberikan pelatihan di lingkungan profesional, ia berhadapan dengan pertanyaan yang tidak sederhana: Bagaimana membawa nilai agama ke ruang kerja modern tanpa dianggap bertentangan dengan profesionalisme?


Ironisnya, dalam kisah yang ia ceritakan, tantangan justru tidak selalu datang dari rekan kerja non-Muslim. Sebagian profesional Muslim sendiri dapat merasa ragu untuk membawa identitas spiritualnya ke tempat kerja. Ada kekhawatiran bahwa berbicara tentang keberkahan, tawakal, dan pengabdian kepada Allah akan dianggap tidak sejalan dengan tuntutan produktivitas.


Namun, bukankah seorang Muslim seharusnya memiliki keyakinan bahwa bekerja secara profesional dan menjalani kehidupan yang berorientasi kepada Allah bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan?


Pengalaman ini memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar. Kita mungkin telah begitu jauh menerima ukuran keberhasilan yang dominan di lingkungan modern, sampai-sampai merasa perlu menyembunyikan sebagian nilai yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan kita.


Faris menyebut budaya yang demikian sebagai Hustle Culture: budaya yang mengagungkan kesibukan, kerja tanpa henti, dan pencapaian material sebagai jalan utama menuju keberhasilan.


Dalam budaya ini, ketika ingin memperoleh lebih banyak, jawaban yang paling mudah adalah bekerja lebih lama, menambah aktivitas, memperbesar target, dan mengoptimalkan setiap menit yang tersedia. Waktu yang tidak menghasilkan sesuatu sering dianggap sebagai waktu yang terbuang.


Namun, apakah kehidupan benar-benar sesederhana itu?


Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk bermalas-malasan. Kerja keras, kesungguhan, dan profesionalisme adalah bagian penting dari amanah manusia. Tetapi Islam juga tidak mengajarkan bahwa manusia harus terus bekerja tanpa batas, seolah-olah seluruh hasil kehidupannya hanya bergantung pada seberapa besar tenaga yang ia keluarkan.


Ada ruang bagi ibadah, keluarga, istirahat, hubungan sosial, dan perenungan. Ada pula kesadaran bahwa usaha manusia, betapapun pentingnya, bukanlah satu-satunya penentu hasil.


Di sinilah Faris menawarkan Barakah Culture sebagai alternatif. Bukan budaya yang mengajak manusia berhenti berusaha, melainkan budaya yang mengembalikan usaha kepada tujuan yang benar.


Jika Hustle Culture cenderung bertanya, “Bagaimana saya dapat melakukan lebih banyak?”, Barakah Culture mengajak kita bertanya, “Bagaimana yang saya lakukan dapat menghasilkan lebih banyak kebaikan dengan pertolongan dan keberkahan Allah?”


Perbedaan keduanya bukan sekadar soal jumlah pekerjaan. Perbedaannya terletak pada orientasi kehidupan.


Dari memahami barakah hingga mengamalkannya


Buku ini disusun dalam dua bagian besar.


Bagian pertama membahas landasan konseptual. Faris memulai dengan pertanyaan mendasar: apa itu barakah, mengapa kita kehilangan barakah, bagaimana Barakah Culture dapat menjadi alternatif bagi Hustle Culture, dan bagaimana kita membangun kerangka untuk menjalani kehidupan yang diberkahi.


Pada bagian ini, pembaca diajak memahami bahwa barakah bukan sekadar bertambahnya sesuatu secara kuantitatif. Keberkahan berkaitan dengan kebaikan dan manfaat yang Allah karuniakan sehingga sesuatu dapat menghasilkan nilai yang melampaui ukuran materialnya.


Waktu yang terbatas dapat menghasilkan manfaat yang luas. Harta yang tidak berlebihan dapat mencukupi banyak kebutuhan. Ilmu yang dimiliki seseorang dapat terus hidup melalui pengajaran dan amal yang diwariskan. Sebuah pekerjaan dapat menjadi lebih bermakna ketika tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memberikan manfaat kepada orang lain.


Dengan demikian, more with less bukan ajakan untuk mengejar hasil tanpa usaha. Ia adalah ajakan untuk mengubah cara kita memahami hasil, sumber daya, dan hubungan kita dengan Allah.


Bagian kedua membawa pembaca dari konsep menuju praktik kehidupan sehari-hari.


Faris memulainya dengan basmalah, kemudian mengajak pembaca meluruskan niat dalam setiap tindakan dan memohon pertolongan Allah. Setelah itu, ia mengembalikan orientasi kehidupan kepada pengabdian kepada Allah dengan ihsan.


Pembaca juga diajak bersyukur atas apa yang dimiliki, mencari rezeki dengan cara yang baik, serta meneladani pola pikir seorang tukang kebun: fokus, bersungguh-sungguh, lembut dalam merawat, dan bertawakal kepada Allah atas hasilnya.


Perjalanan ini berlanjut pada kewajiban memuliakan orang tua, menanam kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan generasi mendatang, berdoa dan bertahan dalam mengejar tujuan, mengingat kematian, serta memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.


Pada bagian akhir, buku ini menyediakan dua lampiran yang berisi 21 sumber keberkahan serta nilai, pola pikir, dan ritual Barakah Culture yang dapat diterapkan dalam kehidupan.


Bagi saya, susunan tersebut menarik karena penulis tidak berhenti pada ajakan untuk memahami keberkahan sebagai konsep. Ia berusaha membawa pembaca masuk ke dalam suatu perjalanan hidup.


Saya membacanya sebagai perjalanan dari basmalah hingga hamdalah. Kita memulai dengan nama Allah, menjalani proses dengan niat dan ikhtiar yang benar, menghadapi hasil dengan tawakal, lalu menutupnya dengan syukur.


Di antara basmalah dan hamdalah itulah kehidupan berlangsung. Ada kerja keras, kegagalan, hubungan dengan manusia, tanggung jawab, kesabaran, dan doa. Barakah bukan alasan untuk mengabaikan semua itu. Justru barakah memberi orientasi agar semua itu tidak kehilangan maknanya.


Baitul Maqdis: apakah kita kehilangan Tanah Barakah atau budaya keberkahan?


Di sinilah saya mulai berdialog dengan gagasan Faris melalui sudut pandang yang selama ini menjadi perhatian saya.


Mulanya, saya cenderung berpikir bahwa karena umat kehilangan Pusat Tanah Barakahnya, yakni Baitul Maqdis, maka umat manusia kehilangan keberkahan dalam kehidupannya.


Pemikiran itu berangkat dari kedudukan Baitul Maqdis dalam Islam. Al-Qur’an menyebut kawasan di sekitar Masjidil Aqsha sebagai kawasan yang diberkahi. Baitul Maqdis bukan sekadar nama sebuah kota atau wilayah geografis. Ia memiliki kedudukan spiritual, historis, dan peradaban dalam perjalanan umat manusia.


Namun, setelah membaca The Barakah Effect, saya mulai membalik pertanyaan tersebut.


Bagaimana jika persoalannya bukan hanya karena kita kehilangan Pusat Tanah Barakah, tetapi juga karena kita telah meninggalkan budaya keberkahan dalam kehidupan kita sendiri?


Bagaimana jika hilangnya keberkahan yang kita rasakan berhubungan dengan cara kita menjalani kehidupan, mengelola waktu, mencari rezeki, membangun keluarga, mendidik generasi, dan menyelenggarakan kehidupan sosial?


Bisa jadi, kita begitu sibuk membicarakan pentingnya Baitul Maqdis, tetapi belum sungguh-sungguh menjadikan nilai-nilai yang semestinya tumbuh dari kesadaran terhadap Tanah Barakah sebagai budaya hidup.


Kita merindukan pembebasan Baitul Maqdis, tetapi apakah kita sedang membangun manusia yang mampu memikul amanah pembebasan itu? Kita berbicara tentang kebangkitan umat, tetapi apakah keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, dan institusi yang kita bangun telah mencerminkan budaya keberkahan?


Tentu saja, refleksi ini tidak berarti bahwa hilangnya Baitul Maqdis secara historis dapat dijelaskan hanya oleh persoalan budaya. Sejarah memiliki sebab politik, militer, sosial, dan ekonomi yang kompleks. Namun, pertanyaan tentang kualitas manusia dan peradaban tetap penting ketika kita berbicara tentang masa depan umat.


Merebut kembali Baitul Maqdis tidak cukup dengan mempertahankan ingatan tentangnya. Kita perlu membangun kembali budaya hidup yang memungkinkan umat memiliki ilmu, disiplin, kesungguhan, solidaritas, integritas, dan kemampuan menghasilkan manfaat.


Budaya keberkahan itu harus tumbuh dari individu, meluas ke keluarga, mengakar dalam masyarakat, menjadi prinsip dalam pengelolaan negara, dan hadir dalam hubungan umat dengan dunia.


Dengan kata lain, kecintaan kepada Baitul Maqdis perlu melahirkan budaya hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini melekat pada Tanah Barakah.


Bagi saya, inilah salah satu cara membaca The Barakah Effect melampaui persoalan produktivitas individu: sebagai undangan untuk menilai kembali kualitas budaya yang sedang kita bangun sebagai umat.


Ketika persoalannya bukan terlalu sibuk, tetapi kurang bersungguh-sungguh


Meski demikian, ada pertanyaan lain yang muncul setelah membaca buku ini.


Faris berangkat dari kegelisahan terhadap lingkungan yang mengagungkan kesibukan dan pencapaian. Ia melihat bagaimana manusia dapat terjebak dalam Hustle Culture, bekerja tanpa henti, mengejar lebih banyak, tetapi kehilangan keseimbangan dan makna.


Lalu, bagaimana jika gagasan ini diterapkan pada masyarakat Muslim yang menghadapi persoalan berbeda?


Tidak semua masyarakat hidup dalam lingkungan korporasi yang menuntut produktivitas tanpa batas. Di sebagian lingkungan, persoalannya justru bukan kelebihan kesibukan, melainkan kurangnya ikhtiar, lemahnya disiplin, atau potensi yang belum dikembangkan secara optimal.


Bahkan, ada kalanya orientasi bahwa dunia hanya sementara disalahpahami sebagai alasan untuk tidak bersungguh-sungguh mengurus kehidupan dunia.


Padahal, dunia yang sementara bukan berarti amanah di dalamnya boleh diabaikan. Mencari nafkah, menuntut ilmu, mendidik anak, membangun institusi, mengembangkan masyarakat, dan memperjuangkan kemaslahatan tetap membutuhkan kerja nyata.


Tentu kita tidak boleh tergesa-gesa menyebut masyarakat pedesaan atau pinggiran sebagai masyarakat yang malas. Kehidupan mereka memiliki ritme, tantangan, dan ukuran kerja yang berbeda. Keterbatasan kesempatan, infrastruktur, pendidikan, dan akses ekonomi juga tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan kemauan pribadi.


Namun, secara konseptual, pertanyaan ini tetap relevan: apakah budaya keberkahan hanya diperlukan untuk mengoreksi manusia yang terlalu sibuk, atau juga diperlukan untuk menggerakkan manusia yang belum mengerahkan ikhtiar sebagaimana mestinya?


Menurut saya, di sinilah gagasan Faris dapat dikembangkan lebih jauh.


Jika Hustle Culture membuat manusia sibuk tanpa henti hingga kehilangan orientasi, budaya pasif dapat membuat manusia memiliki potensi tanpa mengubahnya menjadi manfaat.


Yang satu terjebak dalam aktivitas berlebihan. Yang lain berisiko berhenti sebelum ikhtiarnya mencapai kadar yang diperlukan.


Keduanya berbeda, tetapi sama-sama perlu dikoreksi.


Islam tidak mengajarkan agar kita memilih antara kerja keras dan kehidupan spiritual. Islam mengajarkan pengabdian kepada Allah yang diwujudkan melalui niat yang benar, amal yang sungguh-sungguh, dan tanggung jawab terhadap amanah.


Karena itu, budaya keberkahan bagi masyarakat yang terjebak dalam kesibukan mungkin berarti belajar mengurangi aktivitas yang tidak perlu, memperbaiki prioritas, dan mengembalikan keseimbangan hidup.


Sementara itu, bagi masyarakat yang belum mengoptimalkan potensinya, budaya keberkahan justru dapat menuntut lebih banyak ikhtiar: belajar lebih tekun, bekerja lebih disiplin, mengembangkan keterampilan, membangun institusi, dan memperluas manfaat bagi sesama.


Barangkali, jika dari kegelisahan terhadap Hustle Culture lahir The Barakah Effect: More With Less, maka dari kegelisahan terhadap budaya pasif kita perlu mengembangkan gagasan tentang More Effort, More Impact: lebih banyak ikhtiar, lebih luas dampaknya.


Bukan karena usaha manusia dapat menjamin keberkahan. Bukan pula karena semakin banyak bekerja otomatis semakin dekat kepada Allah. Melainkan karena ada amanah yang memang belum akan tertunaikan tanpa kesungguhan.


Kita tidak bisa membangun sekolah hanya dengan doa tanpa mengurus guru, kurikulum, dan pembiayaannya. Kita tidak bisa membangun tradisi ilmu hanya dengan mengagungkan ulama masa lalu tanpa membaca, meneliti, menulis, dan mendidik generasi baru. Kita tidak bisa berharap lahirnya peradaban hanya dengan merindukan kejayaan masa lampau tanpa membangun kapasitas yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.


Doa bukan pengganti ikhtiar. Tawakal bukan pembenaran bagi kelalaian. Dan keyakinan kepada akhirat bukan alasan untuk mengabaikan amanah di dunia.


Justru ketika orientasi akhirat benar-benar hidup, dunia menjadi ladang yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.


Barakah Culture sebagai jalan tengah sekaligus jalan kebangkitan


Pada akhirnya, saya tidak membaca The Barakah Effect sebagai ajakan untuk mengurangi ambisi atau berhenti mengejar kemajuan. Saya membacanya sebagai ajakan untuk memperbaiki orientasi yang mendasari ambisi dan kemajuan itu sendiri.


Buku ini mengingatkan bahwa kita tidak perlu meniru seluruh budaya produktivitas modern untuk menjadi profesional, maju, atau berhasil. Kita dapat bekerja dengan standar tinggi tanpa menjadikan pekerjaan sebagai pusat kehidupan. Kita dapat mengejar tujuan besar tanpa menganggap bahwa seluruh hasil berada di bawah kendali kita.


Namun, refleksi saya menambahkan satu hal: kita juga tidak boleh menjadikan keberkahan sebagai alasan untuk menurunkan kesungguhan.


Budaya keberkahan seharusnya mampu mengoreksi dua kecenderungan sekaligus: kesibukan yang kehilangan arah dan kepasifan yang gagal menerjemahkan nilai menjadi amal.


Kita membutuhkan manusia yang tahu kapan harus berhenti, tetapi juga tahu kapan harus bangkit. Manusia yang mampu menerima keterbatasan, tetapi tidak menyerah sebelum berikhtiar. Manusia yang tidak mengukur seluruh kehidupan dengan angka, tetapi tetap bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya.


Dan dalam konteks kebangkitan umat, kita membutuhkan budaya yang membuat doa melahirkan gerakan, ilmu melahirkan karya, iman melahirkan keberanian, serta kecintaan kepada Baitul Maqdis melahirkan tanggung jawab peradaban.


Sebab, yang kita butuhkan bukan sekadar lebih sedikit pekerjaan dengan hasil lebih banyak. Yang kita butuhkan adalah kehidupan yang lebih bermakna, ikhtiar yang lebih tepat, dan manfaat yang lebih luas.


Barangkali itulah pelajaran paling penting yang saya bawa dari buku ini: keberkahan bukan sekadar sesuatu yang kita minta agar menyertai kehidupan, melainkan sesuatu yang harus menjadi bagian dari cara kita menjalani kehidupan.


Tanpa berkah, berlimpah terasa susah. Tanpa berkah, waktu terasa cepat berlalu. Dan tanpa Tanah Barakah, umat kehilangan izzah.


Maka, sembari merindukan Baitul Maqdis sebagai Pusat Tanah Barakah, mari kita mulai membangun budaya keberkahan di tempat kita berpijak hari ini. Dari diri sendiri, keluarga, ruang kelas, tempat kerja, lembaga, hingga kehidupan umat.


Bukan hanya agar kita mampu memperoleh lebih banyak dengan lebih sedikit, tetapi agar setiap yang kita miliki, setiap waktu yang kita jalani, dan setiap usaha yang kita kerahkan benar-benar membawa kita lebih dekat kepada Allah dan lebih luas manfaatnya bagi manusia.


Sebab, barakah memang sedemikian berdampak.


 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
MENJELANG MERDEKANYA SELURUH TANAH BARAKAH

Oleh: Faris Irfanuddin Suatu hari pada tahun 569 H, Turansyah, abang tertua Shalahuddin, datang menemui Shalahuddin untuk meminta izin pergi membebaskan Tanah Barakah Yaman. Shalahuddin mengizinkan da

 
 
 

Komentar


bottom of page