top of page

Jaringan Santri Pembebas Baitul Maqdis

11 menit yang lalu
7 menit membaca

Refleksi Hari Santri tentang jati diri para pembebas dan mata rantai perjuangan lintas generasi  



Oleh: Faris Irfanuddin


Pernahkah kita bertanya, mengapa sebagian orang mampu mengubah arah sejarah, sementara yang lain hanya menjadi penonton?


Apa yang membuat seseorang berani memikul tanggung jawab besar ketika keadaan menuntut pengorbanan? Apakah keberanian itu lahir begitu saja? Apakah seorang pemimpin menjadi besar hanya karena memiliki kekuasaan, pasukan, atau kedudukan?


Atau, ada sesuatu yang lebih mendasar, sesuatu yang membentuk cara pandang, keyakinan, dan keberanian mereka dalam mengambil keputusan?


Jika pertanyaan itu kita arahkan pada sejarah pembebasan Baitul Maqdis, kita akan berhadapan dengan nama-nama besar: para khalifah, panglima, dan pemimpin yang dikenang karena kepemimpinan, keberanian, dan kemenangan mereka.


Namun, siapakah sebenarnya para pembebas Baitul Maqdis itu?


Ketika nama mereka disebut, kita segera teringat kepada Umar bin Khattab, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, hingga Shalahuddin al-Ayyubi. Nama-nama yang melekat pada peristiwa besar dalam sejarah pembebasan Baitul Maqdis. Nama-nama yang kita kenang karena kepemimpinan, keberanian, dan kemenangan yang mereka raih.


Namun, jika kita menanggalkan sejenak seluruh gelar dan kebesaran yang melekat pada nama-nama itu, siapakah mereka sebenarnya?


Sebelum dikenal sebagai khalifah, siapakah Umar? Sebelum namanya dikenang sebagai panglima besar, siapakah Khalid? Sebelum sejarah menempatkan Shalahuddin sebagai pembebas Baitul Maqdis, jati diri apa yang melekat pada dirinya?


Apakah kita mengenal mereka hanya sebagai pemimpin? Apakah kita mengingat mereka hanya sebagai panglima? Atau, adakah jati diri lain yang justru menjadi dasar bagi seluruh kebesaran mereka?


Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bukankah cara kita mengenali seseorang sering kali menentukan bagaimana kita memahami sejarahnya?


Kita mengenang mereka sebagai pemimpin. Kita menyebut mereka sebagai panglima. Kita mengagumi mereka sebagai pembebas. Namun, ada satu jati diri yang menyatukan mereka, sebuah jati diri yang justru mudah luput ketika kita hanya melihat kebesaran nama dan peran mereka dalam sejarah.


Mereka adalah para santri!


Umar bin Khattab, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah para santri Rasulullah ﷺ, generasi yang menerima pendidikan langsung dari beliau ﷺ, manusia yang diutus Allah untuk mendidik, menyucikan, dan mengajarkan Kitab serta hikmah. Jati diri mereka sebagai santri Rasulullah ﷺ bukan sekadar keterangan tentang siapa guru mereka, melainkan dasar yang menjelaskan siapa mereka dalam sejarah: generasi yang membawa iman, ilmu, keteladanan, dan amanah Rasulullah ﷺ ke dalam kehidupan dan perjuangan.


Ketika futuh Syam berlangsung, yang bergerak menuju wilayah Syam bukanlah pasukan yang kehilangan arah dan hanya digerakkan oleh ambisi penaklukan. Di dalam barisan itu terdapat generasi santri Rasulullah ﷺ: para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang merupakan santri langsung Rasulullah ﷺ, serta para tabiin yang merupakan generasi santri para sahabat Radhiyallahu ‘anhum—orang-orang yang melanjutkan jati diri, ilmu, keteladanan, dan amanah generasi sebelumnya. Mereka berperang bersama para panglima yang juga merupakan bagian dari generasi santri Rasulullah ﷺ.


Dari kalangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum ada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, seorang yang dikenal amanah dan dipercaya memimpin pasukan Syam. Khalid bin al-Walid, panglima yang kecerdasan militernya mengubah jalannya banyak pertempuran. Keberaniannya tidak berdiri sendiri; ia merupakan keberanian seorang santri Rasulullah ﷺ yang tumbuh dalam iman, disiplin, dan ketaatan yang dibentuk oleh Rasulullah ﷺ. Amr bin al-Ash, yang memimpin di wilayah Palestina dan berperan dalam pembebasan sejumlah kota penting. Yazid bin Abi Sufyan, yang turut memimpin pasukan dalam rangkaian futuh Syam. Syurahbil bin Hasanah, panglima yang dikenal dalam pembebasan wilayah Yordania dan Palestina, serta Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang memimpin salah satu sayap pasukan Syam.


Mereka tidak berdiri sendirian. Di belakang dan di sekeliling para panglima itu terdapat barisan generasi santri Rasulullah ﷺ lainnya: para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang merupakan santri langsung beliau ﷺ, para pembaca Al-Qur’an, ahli ibadah, penuntut ilmu, dan orang-orang yang duduk dalam majelis Rasulullah ﷺ. Setelah generasi sahabat Radhiyallahu ‘anhum, perjuangan itu diteruskan oleh generasi santri para sahabat, yaitu para tabiin. Mereka bukan sekadar orang-orang yang belajar dari generasi sebelumnya, melainkan mata rantai santri yang menerima, menjaga, dan meneruskan warisan ilmu, keteladanan, serta amanah perjuangan. 


Dengan demikian, futuh Syam bukan hanya kisah tentang strategi para panglima, melainkan kisah tentang jejaring santri yang bergerak bersama: generasi santri Rasulullah ﷺ, generasi santri para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, dan generasi-generasi santri setelahnya, guru, murid, pemimpin, prajurit, ulama, dan masyarakat yang disatukan oleh iman serta tanggung jawab.


Baitul Maqdis tidak dibebaskan oleh satu nama saja. Ia dibebaskan melalui mata rantai generasi santri yang jati dirinya terhubung dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, dari para sahabat kepada para tabiin, dan dari para tabiin kepada generasi-generasi setelahnya. Umar bin Khattab, santri Rasulullah ﷺ dari generasi sahabat Radhiyallahu ‘anhum, memberikan arah kepemimpinan dari pusat kekhalifahan. Para panglima yang juga merupakan santri Rasulullah ﷺ menjalankan amanah di medan perjuangan. Para sahabat dan tabiin, generasi santri Rasulullah ﷺ dan generasi santri para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, mengisi barisan dengan ilmu, keberanian, kesabaran, dan pengorbanan. Di situlah kita melihat hakikat pembebasan pertama: bukan sekadar kemenangan militer, melainkan kemenangan generasi santri yang telah dididik untuk menundukkan diri kepada Allah dan memikul amanah sejarah.


Berabad-abad kemudian, mata rantai itu tidak terputus. Ia berlanjut melalui para ulama yang menjadi santri Imam Abu Hamid al-Ghazali atau santri dari murid-muridnya, lalu membentuk cara berpikir, jiwa, dan orientasi para pemimpin pembebasan Baitul Maqdis. Imam al-Ghazali bukan pembebas Baitul Maqdis dalam pengertian mengangkat senjata di medan perang, tetapi ia merupakan salah satu mata rantai penting dalam jaringan keilmuan yang menyiapkan kesadaran umat bagi cita-cita pembebasan.


Imam al-Ghazali hidup sebelum masa Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin al-Ayyubi. Namun, ilmu dan gagasannya diteruskan melalui para santri dan santri dari murid-muridnya, sebagaimana ilmu Rasulullah ﷺ diteruskan kepada para sahabat, kemudian kepada para tabiin, tabiut tabiin, dan generasi-generasi setelahnya. Dalam jaringan ulama yang mengiringi pembebasan Baitul Maqdis, disebut nama-nama seperti Marwan at-Thanzi, Ibnu Asakir, Imad al-Asfahani, Ibnu Syaddad, al-Khubusyani, dan Quthbuddin an-Naisaburi. Mereka bukan sekadar nama yang hadir di pinggir panggung sejarah, melainkan bagian dari mata rantai santri Imam al-Ghazali atau santri dari murid-muridnya.


Marwan at-Thanzi merupakan santri langsung Imam al-Ghazali, yang terhubung dengan tradisi keilmuan beliau dan menjadi salah satu pejabat berpengaruh pada masa Imaduddin. Ibnu Asakir merupakan ulama besar Damaskus, ahli hadis dan sejarah, yang majelisnya menjadi salah satu pusat pembentukan ilmu dan kesadaran keislaman pada masa Nuruddin Zanki. Imad al-Asfahani bukan hanya seorang penulis sejarah, tetapi juga sekretaris dan pendamping penting dalam pemerintahan Shalahuddin. Melalui catatan dan kesaksiannya, kita dapat melihat bagaimana perjuangan pembebasan dipahami sebagai proyek keagamaan, politik, dan peradaban.


Ibnu Syaddad, yang dikenal dekat dengan Shalahuddin dan menulis tentang kehidupan serta perjuangannya, juga merupakan bagian dari lingkungan ulama yang menyertai generasi pembebasan itu. Al-Khubusyani dan Quthbuddin an-Naisaburi turut disebut dalam mata rantai keilmuan yang menghubungkan tradisi Imam al-Ghazali dengan para ulama di sekitar Imaduddin, Nuruddin, dan Shalahuddin. Polanya sama dengan mata rantai para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin: ada guru, ada murid, ada santri dari murid, lalu ada generasi yang menerima, menjaga, dan meneruskan ilmu, serta amanah perjuangan. Nama-nama ini menunjukkan bahwa pembebasan Baitul Maqdis tidak lahir dari ruang kosong. Di belakang seorang pemimpin terdapat jaringan guru, ulama, penulis, ahli hadis, ahli fikih, dan pendidik yang membentuk kesadaran umat.


Oleh karena itu, ketika kita menyebut Imaduddin Zanki, kita tidak sedang menyebut seorang panglima yang berdiri sendirian. Ia adalah bagian dari generasi yang menerima pengaruh tradisi ilmu dan pembaruan keagamaan yang diwariskan oleh Imam al-Ghazali melalui mata rantai santri dan santri dari murid-muridnya. Demikian pula, Nuruddin Zanki. Ia bukan hanya seorang penguasa yang menyatukan wilayah dan membangun kekuatan militer, tetapi juga seorang santri yang hidup dalam bimbingan ulama, memuliakan ilmu, membangun madrasah, dan menjadikan pembinaan umat sebagai bagian dari proyek pembebasan.


Shalahuddin al-Ayyubi pun demikian. Ia bukan sekadar seorang sultan dan panglima. Ia adalah seorang santri dalam mata rantai generasi setelah para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin; bagian dari jaringan santri yang terhubung melalui ulama, tradisi ilmu, dan kepemimpinan Islam. Ia hidup dalam lingkungan yang mewarisi tradisi Imam al-Ghazali melalui para santri dan santri dari murid-muridnya, menerima pengaruh para ulama, dan melanjutkan cita-cita yang telah diperjuangkan oleh Nuruddin Zanki, yang juga berdiri dalam mata rantai santri para ulama dan generasi sebelumnya.


Dengan demikian, generasi Shalahuddin pada hakikatnya adalah generasi santri. Mereka terdiri atas para ulama, penuntut ilmu, pejabat, panglima, prajurit, dan masyarakat yang dibentuk oleh tradisi ilmu dan pembinaan keagamaan. Shalahuddin memang tampil sebagai pemimpin utama, tetapi ia memimpin sebuah generasi yang telah disiapkan oleh jaringan ulama dan guru—jaringan yang pada salah satu mata rantainya bersambung kepada Imam al-Ghazali melalui para santri dan santri dari murid-muridnya. Ia bukan satu-satunya pelaku sejarah, melainkan pemimpin dari generasi santri yang bergerak bersama menuju pembebasan Baitul Maqdis.


Dengan demikian, jika kita mengenali mereka hanya melalui jabatan yang pernah mereka pegang, kita mungkin kehilangan satu dimensi penting dari jati diri mereka.


Para Pembebas Baitul Maqdis adalah para Santri


Tentu, kata santri di sini tidak kita batasi pada pengertian kelembagaan pesantren sebagaimana yang dikenal dalam masyarakat Indonesia hari ini. Santri adalah jati diri seorang murid yang terhubung dengan guru, menerima ilmu dan keteladanan, menjadi bagian dari mata rantai pewarisan, lalu membawa jati diri dan amanah itu ke dalam kehidupan.


Dalam pengertian inilah para sahabat Radhiyallahu ‘anhum merupakan generasi santri Rasulullah ﷺ. Para tabiin merupakan generasi santri para sahabat. Para tabiut tabiin merupakan generasi santri para tabiin. Demikian seterusnya, para ulama dan generasi yang mewarisi serta mengembangkan tradisi keilmuan Islam merupakan generasi santri dari mata rantai sebelumnya. Demikian pula, generasi yang hidup pada masa Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi: mereka adalah bagian dari jaringan santri yang jati dirinya dibentuk oleh hubungan dengan guru, warisan ilmu, dan kesinambungan amanah.


Dengan demikian, sejarah pembebasan Baitul Maqdis memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar pergantian nama para pemimpin. Di balik jati diri seorang pembebas, terdapat jati diri seorang santri. Di balik kebesaran seorang panglima, terdapat seorang santri yang berdiri dalam mata rantai guru dan murid. Di balik kemenangan sebuah generasi, terdapat jati diri generasi santri yang menerima, menjaga, dan meneruskan amanah dari generasi sebelumnya.


Jati diri itu tidak berhenti pada masa lalu.


Ketika kita menengok sejarah perjuangan Palestina, kita kembali menemukan ulama, pendidik, dan tokoh-tokoh yang meninggalkan pengaruh bagi generasi sesudahnya. Nama Izzuddin al-Qassam dan Syekh Ahmad Yasin, misalnya, memiliki tempat penting dalam ingatan sejarah Palestina. Mereka perlu dibaca bukan hanya sebagai tokoh perjuangan, tetapi juga sebagai bagian dari mata rantai santri: jati diri yang terhubung dengan ilmu, guru, pewarisan gagasan, dan kesinambungan amanah sejarah. Pengaruh mereka perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan antara hubungan pendidikan langsung, pewarisan gagasan, dan kesinambungan sejarah.


Dari sini, Hari Santri mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih jauh daripada kebanggaan terhadap sebuah jati diri. Jika para pembebas terdahulu merupakan generasi santri dalam mata rantai perjuangan, di manakah posisi kita dalam mata rantai itu? Apakah kita sekadar mengagumi nama-nama besar, atau memahami tanggung jawab yang melekat pada jati diri seorang santri: menerima warisan ilmu, menjaganya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya?


Sebab para pembebas tidak hanya meninggalkan kemenangan untuk dikenang. Mereka juga menjadi bagian dari mata rantai panjang generasi santri yang mewariskan ilmu, keyakinan, dan tanggung jawab.


Mungkin, untuk memahami siapa para pembebas Baitul Maqdis, kita perlu terlebih dahulu melihat mereka bukan hanya sebagai pemimpin yang mengubah sejarah, tetapi sebagai santri yang meneruskan warisan perjuangan generasi sebelumnya.


Mungkin pula, di situlah kita menemukan makna Hari Santri yang sesungguhnya dalam hubungannya dengan Baitul Maqdis. Bahwa jati diri santri tidak berhenti pada mereka yang sedang belajar, tetapi juga melekat pada mereka yang meneruskan ilmu, menjaga warisan, dan memikul tanggung jawab sejarah memerdekakan Baitul Maqdis.


 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
MENJELANG MERDEKANYA SELURUH TANAH BARAKAH

Oleh: Faris Irfanuddin Suatu hari pada tahun 569 H, Turansyah, abang tertua Shalahuddin, datang menemui Shalahuddin untuk meminta izin pergi membebaskan Tanah Barakah Yaman. Shalahuddin mengizinkan da

 
 
 

Komentar


bottom of page