Ketika Bencana Alam ‘Melahap’ Kota-Kota Syam. Apa yang Dilakukan Nuruddin Zanki?
Oleh: Faris Irfanuddin
Pada tahun 565 H, tepatnya 29 Juni 1170 M, bencana alam dahsyat melanda wilayah Syam. Damaskus, Ba’labak (Baalbek), Homs, Hama, Shayzar, Ba’rin, dan Aleppo mengalami kerusakan parah. Tembok kota runtuh, benteng-benteng roboh, dan rumah-rumah ambruk menimpa penghuninya.
Ibnu al-Athir merekam peristiwa itu dalam Al-Kāmil fī al-Tārīkh:
«كَانَتْ زَلَازِلُ عَظِيمَةٌ مُتَتَابِعَةٌ هَائِلَةٌ لَمْ يَرَ النَّاسُ مِثْلَهَا»
“Terjadi rangkaian bencana alam yang dahsyat dan luar biasa, yang belum pernah disaksikan manusia sebelumnya.”
Ia kemudian menggambarkan kehancuran yang terjadi:
«وَتَهَدَّمَتْ أَسْوَارُهَا وَقِلَاعُهَا، وَسَقَطَتِ الدُّورُ عَلَى أَهْلِهَا، وَهَلَكَ مِنْهُمْ مَا يَخْرُجُ عَنِ الْحَدِّ»
“Tembok-tembok dan benteng-bentengnya runtuh, rumah-rumah ambruk menimpa penghuninya, dan korban jiwa berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa.”
Di Aleppo, keadaan jauh lebih mencekam. Orang-orang yang selamat bahkan tidak berani kembali ke rumah karena takut bencana susulan.
«وَكَانُوا لَا يَقْدِرُونَ أَنْ يَأْوُوا إِلَى مَسَاكِنِهِمْ خَوْفًا مِنَ الزَّلْزَلَةِ»
“Mereka tidak berani berlindung di tempat tinggal mereka karena takut akan bencana susulan.”
Bayangkan, sebuah kota yang penduduknya kehilangan rumah sekaligus rasa aman. Tempat yang semestinya menjadi perlindungan justru menjadi sumber ketakutan.
Di tengah kehancuran itulah kabar bencana sampai kepada Nuruddin Mahmud Zanki, pemimpin Syam yang lebih sering dikenang karena perjuangannya menghadapi Tentara Salib.
Namun, kali ini yang dihadapinya bukan pasukan musuh. Kota-kota di wilayahnya sendiri sedang porak-poranda.
Apa yang dilakukan Nuruddin?
Ibnu al-Athir mencatat:
«فَلَمَّا أَتَاهُ الْخَبَرُ سَارَ إِلَى بَعْلَبَكَّ لِيُعَمِّرَ مَا انْهَدَمَ مِنْ سُورِهَا وَقَلْعَتِهَا»
“Ketika berita itu sampai kepadanya, ia bergerak menuju Ba’labak untuk membangun kembali bagian tembok dan bentengnya yang runtuh.”
Ketika tiba di Ba’labak, ia menerima kabar kehancuran di kota-kota lain. Ia kemudian mengatur agar perbaikan dan pengamanan tetap berjalan.
«فَجَعَلَ بِبَعْلَبَكَّ مَنْ يُعَمِّرُهَا وَيَحْمِيهَا وَيَحْفَظُهَا»
“Ia menempatkan orang-orang di Ba’labak untuk membangun kembali, melindungi, dan menjaganya.”
Ia bergerak ke Homs, lalu Hama dan Ba’rin. Setelah itu, ia tiba di Aleppo dan menyaksikan kehancuran yang begitu parah.
Tentang tindakannya di kota tersebut, Ibnu al-Athir menulis:
«فَأَقَامَ بِظَاهِرِهَا، وَبَاشَرَ عِمَارَتَهَا بِنَفْسِهِ، فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى أَحْكَمَ أَسْوَارَ الْبِلَادِ وَجَوَامِعَهَا»
“Ia menetap di luar kota dan menangani sendiri pekerjaan pembangunan kembali. Ia terus melakukannya hingga tembok-tembok kota dan masjid-masjidnya selesai diperbaiki.”
(Al-Kāmil fī al-Tārīkh, Ibnu al-Athir, jilid 9, peristiwa tahun 565 H, hlm. 353 dalam edisi yang dirujuk.)
Perhatikan tiga hal: ia bergerak setelah menerima kabar, mengatur pemulihan di sejumlah kota, dan terlibat langsung dalam pembangunan kembali Aleppo.
Sejarah tidak memberikan catatan lengkap tentang bantuan yang diterima setiap keluarga. Namun, kronik tersebut menunjukkan bahwa Nuruddin menggunakan kewenangan dan sumber dayanya untuk menangani kehancuran yang terjadi.
Bencana alam tidak dapat ia hentikan. Namun, ia dapat menentukan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Tiga belas tahun sebelumnya, pada 1157 M, bencana alam juga menghancurkan sejumlah kota di Syam. Kerusakan melanda permukiman dan benteng-benteng di wilayah kekuasaannya.
Dua peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pekerjaan seorang pemimpin tidak selesai ketika satu krisis berlalu. Kota yang telah dipulihkan dapat kembali mengalami kehancuran. Masyarakat yang baru mulai menata kehidupan bisa kembali kehilangan tempat tinggal.
Tidak semua bangunan memiliki fungsi yang sama. Tembok melindungi kota, masjid menjadi ruang ibadah, dan rumah menjadi tempat manusia kembali menjalani kehidupan bersama keluarganya.
Sebuah kota bukan sekadar kumpulan bangunan. Di balik setiap rumah yang runtuh, ada kehidupan yang terputus. Di balik setiap tembok yang roboh, ada rasa aman yang hilang.
Oleh karena itu, pembangunan kembali selalu menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang dipulihkan, untuk siapa, dan sampai kapan pekerjaan itu dituntaskan?
Sejarah tidak perlu membuat Nuruddin menjadi pemimpin tanpa cela. Cukup dengan membaca apa yang dicatat Ibnu al-Athir, kita mengetahui bahwa ia mendatangi wilayah terdampak, mengatur pekerjaan perbaikan, dan terlibat langsung dalam rekonstruksi.
Berabad-abad kemudian, nama kota-kota itu masih tercatat dalam sejarah. Begitu pula nama pemimpin yang berusaha membangunnya kembali.
Akhirnya, tidak ada pemimpin yang mampu menjamin bahwa wilayahnya akan terbebas dari bencana alam. Namun, ada hal-hal yang tetap berada dalam jangkauan tanggung jawabnya: keputusan yang diambil, sumber daya yang dikerahkan, dan pekerjaan yang diselesaikan.
Ketika sebuah kota porak-poranda, sejarah tidak hanya mencatat apa yang telah runtuh.
Ia juga mencatat apa yang dilakukan seorang pemimpin sesudahnya.


Komentar