top of page

Seberapa Dekat Generasi Kita dengan Pembebasan Baitul Maqdis?

7 Okt
2 menit membaca

Oleh: Faris Irfanuddin


Hari ini, genap tiga tahun Perang Taufan Al-Aqsha. Dua bulan lagi, genap dua tahun pembebasan Damaskus. Kurang dari satu tahun lagi, sebelum deadline pembebasan Baitul Maqdis pada tahun 2027.


Hari-hari ini mengingatkan kita pada hari-hari yang terjadi menjelang dua pembebasan Baitul Maqdis pada masa lalu.


Meski tidak semua peristiwanya sama persis, ada satu pola yang sama. Pembebasan pertama maupun kedua, keduanya sama-sama dibuka dengan pembebasan Damaskus.


Hanya dua tahun berselang dari pembebasan Damaskus, Baitul Maqdis merdeka di bawah kepemimpinan ā€˜Umar bin Khattab. Namun, berbeda dengan pembebasan kedua, butuh waktu sekitar 12 tahun bagi Shalahuddin al-Ayyubi untuk membebaskan Baitul Maqdis setelah membebaskan Damaskus.


Keterhubungan antara shaf garis depan Syam dan Madinah adalah salah satu pelajaran paling berharga dari keberhasilan generasi pembebas pertama dalam akselerasi pembebasan, yakni garis depan Syam tidak mengkhianati garis depan Madinah, dan garis depan Madinah tidak mengecewakan garis depan Syam.


Abu Ubaidah dan Khalid di garis depan Syam tidak berhenti melakukan perlawanan demi perlawanan. Barisan pasukan dirapatkan. Musuh-musuh dikalahkan. Sementara ā€˜Umar di garis depan Madinah tidak pernah sedetik pun melupakan garis depan Syam. Pasar dihidupkan dengan syariat. Barisan shaf salat dirapatkan dan dikuatkan.


Kedua garis depan perjuangan ini seperti sedang berjalan beriringan, meski terpisah jarak ribuan kilometer.


Lantas, bagaimana dengan garis depan kita masing-masing?


Mundur 10 tahun jika dibandingkan dengan pembebasan pertama. Salah satu penyebabnya—sebagaimana disebutkan oleh para sejarawan—adalah perpecahan dan pertikaian antarpemimpin di Syam. Masing-masing berjuang demi mengamankan kekuasaannya.


ā€˜Garis depan Madinah’ di Syam yang seharusnya menyuplai logistik dan pasukan ke ā€˜garis depan Syam’, justru menyimpannya untuk mengamankan benteng kekuasaan mereka sendiri.


Kegigihan dan keikhlasan generasi Shalahuddin berhasil menghentikan kemunduran itu.


Pertikaian para pemimpin saja bisa menunda pembebasan, bagaimana dengan kita yang semua lapisnya penuh pertikaian?


Garis depan Syam hari ini dijaga mereka yang saat ini sedang melakukan perlawanan di Gaza. Mereka melawan dengan senjata dan dengan segala yang dibutuhkan untuk memenangkan pertempuran demi pertempuran. Mereka mewakili kaum Muslimin di seluruh dunia.


Sementara itu, garis depan Madinah ada di semua penjuru negeri kaum Muslimin yang diamanahkan kepada kita semua.


Seberapa dekat generasi kita dengan pembebasan Baitul Maqdis dapat dilihat dan diukur dari seberapa dekat antara ā€˜garis depan Syam’ dan ā€˜garis depan Madinah’ kita.


Bukan kedekatan jarak, melainkan kedekatan akal, hati, dan jiwa di antara mereka.


Sebagaimana kedekatan Abu Bakar dan ā€˜Umar dengan para panglima Futuh Syam, saling tsiqah antarpenanggung jawab setiap garis depan juga menentukan proses pembebasan. Seperti tsiqah-nya para pasukan dengan penduduk Madinah.


Jika semua garis depan mengamalkan hadis Nabi ļ·ŗ:

Ł…ŁŽŁ†Ł’ Ų¬ŁŽŁ‡Ł‘ŁŽŲ²ŁŽ ŲŗŁŽŲ§Ų²ŁŁŠŁ‹Ų§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ ŲŗŁŽŲ²ŁŽŲ§


ā€œBarang siapa yang mempersiapkan seorang pejuang, ia telah ikut berperang.ā€


Maka tinggal selangkah lagi menuju garis pembebasan.


Hanya ada dua pilihan dan tidak ada pilihan ketiga: mereka yang menyiapkan atau mereka yang melawan.


Saat ini Allah beri ketetapan kita berada pada pilihan ā€œmenyiapkanā€.


Dalam khazanah sejarah pembebasan Baitul Maqdis, juga ada dua pilihan keteladanan: meneladani ā€˜garis depan Madinah’ pada masa sahabat Radhiyallahu 'anhum, dengan hasil dua tahun kemudian Baitul Maqdis merdeka; atau meneladani ā€˜garis depan Madinah’ pada masa Shalahuddin, dengan hasil mundur 12 tahun.


Sebenarnya, masih ada pilihan ketiga. Namun, pilihan ini sudah dilampaui oleh para sahabat dan tidak dipilih oleh generasi-generasi setelahnya.


Yakni pilihan untuk terombang-ambing, tersesat di Padang Tiih selama 40 tahun!


Jadi, pertanyaannya bukan lagi: apakah kita berada di garis depan?


Pertanyaannya: garis depan yang mana yang sedang kita teladani?

Ā 
Ā 
Ā 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
MENJELANG MERDEKANYA SELURUH TANAH BARAKAH

Oleh: Faris Irfanuddin Suatu hari pada tahun 569 H, Turansyah, abang tertua Shalahuddin, datang menemui Shalahuddin untuk meminta izin pergi membebaskan Tanah Barakah Yaman. Shalahuddin mengizinkan da

Ā 
Ā 
Ā 
Janji Pertolongan Allah

Oleh: Atina Ummu ā€˜Ali Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) ŁˆŁŽŁƒŁŽŲ§Ł†ŁŽ Ų­ŁŽŁ‚Ł‘Ł‹Ų§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽŲ§ Ł†ŁŽŲµŁ’Ų±Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŲ¤Ł’Ł…ŁŁ†ŁŁŠŁ†ŁŽ ā€œAnd it was incumbent upon Us to help the believers.ā€ ā€œDan merupakan kewa

Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page