Peluncuran Buku Emas Baitul Maqdis: ‘Baitul Maqdis Terjajah, Bebaskan dengan Ilmu’


ISTANBUL, Jum’at (Institut Al-Aqsa): Sudah 101 tahun berlalu sejak Baitul Maqdis lepas dari tangan ummat Islam, tepatnya sejak Inggris menjajah tanah suci tersebut tahun 1917. Akan tetapi, mengapa ummat Islam belum juga sanggup merebut kembali tanah para nabi tersebut? Dalam muktamar internasional Baitul Maqdis ke-18 yang diadakan di Istanbul, Turki, pada 15-16 September 2018, pendiri Studi Baitul Maqdis dan Islamicjerusalem Research Academy (ISRA) Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi mendiskusikannya dengan para cendekiawan Baitul Maqdis lainnya. Hadir suatu kesimpulan bahwa salah satu penyebab utama mengapa tanah yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an sebagai tanah berkah ini belum dibebaskan adalah karena bencana pengetahuan yang kini melanda ummat Islam.


Apakah bencana pengetahuan (dalam bahasa Arab: An-Nakbah Ma’rifiyyah) yang dimaksud? Ialah hilangnya ilmu dan pengetahuan hakiki dari kaum Muslim tentang keberkahan, keutamaan, dan kebenaran sejarah Baitul Maqdis. Selama satu abad, penjajah Baitul Maqdis, salah satunya dengan agenda Zionisme terus menerus menutupi identitas Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha yang terletak di dalamnya sehingga ummat Islam lupa dan abai. Oleh karena itu, tahap pertama menuju pembebasan Baitul Maqdis adalah mengakhiri bencana pengetahuan ini, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam mendidik para sahabat dengan ilmu dan strategi yang benar mengenai Baitul Maqdis. Inilah yang kemudian dilakukan para penerusnya hingga Baitul Maqdis bisa merdeka oleh ‘Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi.


Saat ini, agar bisa mencontoh langkah-langkah menuju pembebasan Baitul Maqdis, kita pun harus mengakhiri An-Nakbah Ma’rifiyyah. Jihad ilmu pengetahuan ini harus dilakukan oleh seluruh individu yang beriman. Bahkan menurut Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi, ikhtiar ini sudah bukan lagi fardhu kifayah yang bisa diwakili sebagian orang, melainkan fardhu ‘ain yang merupakan kewajiban setiap orang. Tersebab itulah, Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) mengumpulkan makalah-makalah pilihan terkait Baitul Maqdis untuk menjadi rujukan ilmiah mengenai sejarah, signifikansi, dan penelitian-penelitian terbaru tentang Baitul Maqdis dalam sebuah buku. Buku ini diberi judul “Buku Emas Baitul Maqdis”.


Buku setebal 900 halaman yang berisi jurnal ilmiah, makalah penelitian, petikan buku, dan tulisan penting lain mengenai Baitul Maqdis ini diluncurkan pada penutupan konferensi internasional Baitul Maqdis di Istanbul. Perwakilan ISA, Ahmad Dawamul Muthi dan Azka Madihah yang merupakan peneliti Baitul Maqdis dan mahasiswa pascasarjana jurusan Baitul Maqdis, memberikan cetakan pertama Buku Emas tersebut kepada Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi sebagai pendiri jurusan Baitul Maqdis (Islamicjerusalem). Dalam sambutan peluncuran buku, disampaikan bahwa buku ini dinamakan buku emas karena emas merupakan hal berharga di seluruh dunia. Sementara Baitul Maqdis, keutamaan dan keberkahannya untuk seluruh dunia bahkan lebih bernilai daripada emas.


Buku Emas Baitul Maqdis merupakan kerja kolektif dari para relawan dan peneliti ISA. Di masa mendatang, buku ini akan menjadi rujukan utama bagi para pembicara tentang Baitul Maqdis. ISA juga akan membawa buku ini ke universitas-universitas di Indonesia agar mendorong berdirinya program studi Baitul Maqdis. Saat ini, program studi Baitul Maqdis sudah berdiri di universitas di Inggris, Malaysia, dan Turki. Sayangnya, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia justru belum memiliki satu pun program studi di universitas yang dikhususkan untuk Baitul Maqdis. Dengan demikian, peluncuran Buku Emas Baitul Maqdis ini diharapkan menjadi lompatan besar untuk mendorong berdirinya program studi Baitul Maqdis di Indonesia, juga menjadi langkah bermakna mengakhiri An-Nakbah Ma’rifiyyah yang kini menjajah akal ummat Islam. Sebab sebagaimana Prof. Abd al-Fattah el-Awaisi menegaskan, tidak akan mungkin bisa membebaskan Baitul Maqdis jika akal kita masih terjajah.* (Institut Al-Aqsa)

60 tampilan0 komentar