Jejak Warisan Tafsir dari para Pewaris Rasulullah ﷺ di Baitul Maqdis dan Syam
Oleh: Atina Ummu ‘Ali
Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA)
Ilmu tafsir Al-Qur’an adalah ilmu yang paling dekat dengan kenabian. Ia adalah warisan nubuwah, ilmu yang lahir dari wahyu dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui sanad yang bersambung, hidup, dan terjaga. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, Al-Qur'an telah disampaikan bukan hanya melalui lafaz, tetapi juga konteks, praktik, dan penjelasan makna oleh Nabi ﷺ sendiri. Warisan ini kemudian diteruskan kepada para sahabat pilihan, lalu kepada para tabiin dan generasi setelah mereka (tabiut tabiin) melalui majelis-majelis ilmu, halaqah qira’ah, dan pengajaran lisan yang terjaga sanadnya. Ilmu tafsir bukan sekadar usaha memahami struktur kalimat dalam mushaf, tetapi upaya mewarisi cahaya kenabian dalam memahami dan menghidupkan wahyu.
Di antara poros penting dalam jalur pewarisan ilmu tafsir adalah wilayah Biladisy Syam, khususnya Damaskus dan Baitul Maqdis. Tanah yang diberkahi oleh Allah ini menjadi pusat penyebaran ilmu dan tafsir Al-Qur'an sejak generasi awal. Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang utama menetap dan mengajar di sana, menjadikannya pusat halaqah ilmu yang menghubungkan generasi sahabat dengan tabiin.
Di sisi lain, Makkah dan Madinah juga menjadi fondasi penting penyebaran tafsir. Di Makkah, sosok seperti 'Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhu, sepupu Nabi Muhammad ﷺ dan murid langsung beliau ﷺ merupakan tokoh utama dalam penyebaran ilmu tafsir. 'Abdullah bin 'Abbas Radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai "Turjuman al-Qur'an" dan "Hibr al-Ummah".
Doa Rasulullah ﷺ untuknya: "Allahumma faqqih-hu fi ad-dien wa 'allimhu at-ta'wil"(“Ya Allah, berikanlah Ibnu Abbas pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir [penafsiran Al-Qur’an]”). Doa inilah yang menjadi sebab utama Allah memberikan keistimewaan ilmu tafsir kepadanya, menjadikannya muara rujukan tafsir bagi generasi setelahnya.
Salah satu murid terdekat Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhu adalah Mujahid bin Jabr, seorang tabiin yang mencatat dan meriwayatkan tafsir secara langsung dari gurunya. Ia bahkan mengkhatamkan Al-Qur'an tiga kali di hadapan Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhu, menanyakan makna setiap ayat. Mujahid kemudian menjadi perawi tafsir utama dalam kitab-kitab seperti Tafsir At-Thabari yang kitabnya menjadi bagian dari rantai keilmuan tafsir yang dikaji oleh ulama-ulama Syam.
Ibnu Katsir, ulama kelahiran Kota Damaskus yang karya tafsir dan ensiklopedia lengkapnya menjadi buku rujukan utama tafsir dan sirah hingga hari ini. Ia mengajar di masjid Umawi Damaskus, masjid yang menjadi tempat mengajar banyak ulama besar Islam, seperti Ibnu Asakir, Ibnu Taimiyah, Imam An-Nawawi, Imam Adz-Dzahabi, Imam Al-Ghazali dan Imam Ibnu Al-Jazari.
Adapun Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang tabiin dari Basrah, adalah salah satu tokoh penting dalam jalur periwayatan tafsir. Ia dikenal sebagai ahli tafsir dan hadis, yang meriwayatkan banyak penjelasan Al-Qur'an dari para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, khususnya yang tinggal dan berdakwah di wilayah Syam dan Baitul Maqdis. Di antara para sahabat yang mengajar di Baitul Maqdis adalah Abu Darda', Ubadah bin As-Shamit, dan Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu 'anhum. Mereka menyampaikan ilmu secara langsung di masjid-masjid sekitar Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis, Damaskus, dan kota-kota di Negeri Syam, menjadikan Baitul Maqdis dan Syam sebagai salah satu pusat sanad tafsir bil-ma'tsur (tafsir berbasis riwayat).
Bahkan diriwayatkan Abu Darda' gemar mengirimkan surat kepada para sahabat Radhiyallahu 'anhum di Kota Madinah untuk bergabung bersamanya di Syam dan mengajarkan Al-Qur'an dan hadis Rasulullah ﷺ di Tanah Barakah. Ummu Darda' As-Sughra, istri Abu Darda' yang merupakan guru para ‘alimat Negeri Syam, rutin berada satu bulan di masjid Damaskus dan satu bulan di Masjidil Aqsha untuk mengajar, terus seperti itu hingga beliau wafat.
Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Sa'd mencatat banyak jalur sanad tafsir dan qiraah yang berakar dari Syam dan Baitul Maqdis. Kota-kota seperti Damaskus, Hims (Homs), dan Baitul Maqdis menjadi tempat para sahabat menetap, berdakwah, dan mengajar. Dari halaqah-halaqah mereka lahirlah generasi tabiin yang meneruskan tafsir kepada tabiut tabiin sehingga rantai transmisi ilmu tetap hidup dan bersambung. Peran Qatadah dalam menyambungkan jalur ilmu dari Syam ke wilayah sekitarnya seperti Basrah menunjukkan betapa luasnya penyebaran ilmu tafsir dari Baitul Maqdis dan Syam.
Penutup
Dari Makkah ke Baitul Maqdis, dari Madinah ke Syam, ilmu tafsir menyebar melalui lisan para pewaris Nabi ﷺ yang tepercaya dan melalui pusat-pusat keberkahan ilmu tafsir Al-Qur’an. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu mendidik para mufassir besar di Makkah, para sahabat di Madinah menjadi fondasi utama keilmuan, dan di Baitul Maqdis serta Damaskus, tafsir Al-Qur'an diajarkan secara langsung oleh para sahabat yang mulia kepada tabiin dan kemudian kepada tabiut tabiin hingga menjadi transmisi keilmuan yang bersambung dan tepercaya hingga ke generasi-generasi setelahnya, inilah Al-Qur’an yang Allah jamin sendiri penjagaannya.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." (Surah Al-Ḥijr [15]: 9)
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir bahwa Allah sendirilah yang menjamin penjagaannya dari penambahan, pengurangan, perubahan, atau penghapusan. Tidak seperti kitab-kitab sebelumnya yang diserahkan penjagaannya kepada umatnya masing-masing, Al-Qur’an dijaga langsung oleh Allah, baik dari segi lafaz maupun makna.
Baitul Maqdis, yang menjadi kiblat pertama umat Islam, bukan hanya menyimpan keutamaan dalam ibadah, tetapi juga menjadi pusat keilmuan, tempat bertemunya warisan kecintaan kaum Muslimin dalam mendalami makna-makna Kalamullah dan tradisi keilmuan Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan keberkahan tempat ini dalam firman-Nya:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ "Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isrā’ [17]: 1)
Keberkahan Baitul Maqdis bukan hanya terletak pada keutamaannya di mana terdapat Masjidil Aqsha sebagai masjid kedua yang dibangun di atas muka bumi setelah Masjidil Haram, tetapi juga pada fungsinya sebagai medan penyebaran ilmu yang terjaga. Dari tempat inilah tafsir disampaikan, dipelajari, dan diwariskan, menjadi cahaya yang bersinar ke berbagai negeri, hingga ke tanah Nusantara dan bersinar bagi umat sepanjang zaman.Wallahu A‘lam.
Daftar Pustaka:
Adz-Dzahabi, Muhammad ibn Ahmad. Siyar A‘lam al-Nubala’. Disunting oleh Shu‘ayb al-Arna’ut. Beirut: Mu’assasat al-Risalah.
Ibn Sa‘d, Muhammad ibn Sa‘d. Tabaqat al-Kubra. Beirut: Dar Shadir.
At-Thabari, Abu Ja‘far Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Katsir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Beirut: Dar Ibn Hazm.
Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
As-Suyuti, Jalal al-Din. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Dar at-Turats.
At-Thabakh, Muhammad Raghib. I‘lam al-Nubala’ bi-Tarikh Halab. Dimasyq: Dar al-Qalam.

Komentar