Janji Pertolongan Allah
Oleh: Atina Ummu ‘Ali
Peneliti Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA)
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“And it was incumbent upon Us to help the believers.”
“Dan merupakan kewajiban Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.”
Tadabbur Surah Ar-Rum ayat 47
Ada saatnya kita bertanya, apakah kemenangan itu benar-benar akan datang? Ketika kezaliman tampak lebih kuat, penjajahan terus berlangsung, dan mereka yang membela kebenaran justru harus menanggung begitu banyak kehilangan. Berbagai usaha sudah dilakukan, tetapi mengapa keadaan seolah tidak banyak berubah?
Kita merasa lelah. Ada yang merasa lelah karena harus terus berjuang, ada pula yang lelah karena menyaksikan penderitaan saudara-saudaranya, tetapi tak mampu berbuat banyak. Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan tentang kemenangan terus menerus berada dalam pikiran kita. Sampai kapan semua ini harus dilalui?
Di tengah kegelisahan itulah kita membaca janji Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 47. Allah telah menetapkan pertolongan bagi orang-orang beriman. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketetapan itu Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri, sebagai bagian kasih sayang Allah dan karunia-Nya. Allah benar dalam janji-Nya. Dia tidak akan menyalahinya.
Ayat ini datang untuk menghibur Rasulullah ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah berjuang sendirian dan panutan kesabaran dalam perjuangan telah dicontohkan oleh para rasul sebelumnya.
Para rasul sebelum beliau ﷺ menghadapi pendustaan, meskipun telah membawa bukti-bukti yang nyata. Mereka ditentang oleh kaum mereka sendiri. Dalam Tafsir At-Thabari, Allah menyampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ mengenai perjalanan perjuangan para rasul terdahulu dan pertolongan yang Allah berikan kepada mereka. Beratnya jalan yang sedang ditempuh tidak berarti Allah meninggalkan hamba-Nya.
Barangkali yang perlu kita periksa adalah cara kita memandang perjalanan ini. Kita begitu sering menghitung apa yang belum tercapai, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah diperjuangkan. Ada orang-orang yang menghabiskan hartanya, menyerahkan waktunya, bahkan mempertaruhkan jiwanya. Ada yang mendidik anak-anak agar tetap mengenal kebenaran dan memiliki barometer insting membedakan antara yang benar dan salah. Ada yang terus menyampaikan kesaksian ketika banyak orang memilih diam. Ada yang memilih untuk mendukung saf garis depan melalui penguatan garis belakang.
Usaha mereka patut kita syukuri. Belum tercapainya tujuan akhir tidak membuat seluruh pengorbanan itu kehilangan nilainya. Dengan mengingatnya, kita belajar menghargai setiap tahap yang telah dilalui, lalu bertanya dengan lebih jujur: bagian mana yang masih bisa kita kerjakan?
Perjalanan ini membutuhkan napas panjang. Sementara kita, sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Isra ayat 11, manusia sering tergesa-gesa. Ingin segera melihat hasil, ingin kesedihan cepat selesai, ingin keadilan lekas tegak. Keinginan itu dapat dimengerti. Namun, kita tetap harus belajar menjalani waktu dan tahapan-tahapan yang mungkin belum sesuai dengan harapan kita yang ingin kemenangan segera tercapai dan keadilan tegak.
Al-Qur’an menyebut hendaknya orang beriman menghiasi dirinya dan hatinya dengan shabr jamiil, ‘kesabaran yang indah’. Kita mungkin bertanya, bagaimana kesabaran bisa terasa indah, sedangkan menjalaninya begitu berat? Dalam tadabbur ini, kita belajar melihat keindahannya pada kesungguhan seseorang untuk tetap taat ketika ia lelah, tetap berikhtiar ketika hasilnya belum terlihat, dan membawa keluhnya kepada Allah. Ia boleh menangis. Ia boleh merasa letih. Dalam keadaan itu pun, ia berusaha menjaga langkahnya agar terus terkoneksi antara kebersihan niatnya dan rida Allah.
Lalu, apakah keyakinan terhadap janji Allah cukup untuk menghadirkan kemenangan? Pelajaran Uhud dan Hunain mengajak kita memeriksa diri. Dalam kajian tafsir Ar-Rum ayat 47, peristiwa Uhud dan Hunain itu memperlihatkan pentingnya ketaatan dan ketergantungan kepada Allah.
Di Uhud, kaum Muslimin sempat berada dalam keadaan unggul. Keadaan berubah ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan tempat yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk mereka jaga. Peristiwa ini mengajarkan bahwa perintah Rasulullah ﷺ tidak boleh dianggap ringan, termasuk ketika kemenangan sudah tampak di depan mata. Semangat membela Islam perlu disertai kesediaan untuk menaati tuntunannya.
Di Hunain, jumlah yang besar justru membuat kaum Muslimin merasa bangga. Namun, banyaknya pasukan tidak menghindarkan mereka dari kekacauan pada awal pertempuran. Allah mengingatkan peristiwa itu dalam Surah At-Taubah ayat 25–26, kemudian menyebut turunnya ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Persiapan tetap diperlukan, tetapi hati tidak boleh merasa cukup dengan kekuatan yang dimiliki.
Pelajaran ini pertama-tama kita arahkan kepada diri sendiri. Jangan sampai ia menjadi alasan untuk mudah menghakimi keimanan saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangan mereka. Yang dapat kita lakukan adalah membantu, belajar dari kesalahan, dan memeriksa amanah yang berada dalam tanggung jawab kita.
Syaikh Prof Dr. Muhammad Ratib An-Nabulsi, ulama tafsir Syam dari Kota Damaskus, menjelaskan dua syarat yang perlu dihadirkan sebagai syarat dihadirkannya kemenangan oleh Allah: keimanan dan persiapan kekuatan. Keimanan itu harus berpengaruh pada kehidupan, mendorong ketaatan, serta menahan diri dari menyakiti makhluk Allah. Adapun persiapan dilakukan sesuai kemampuan. Kita diperintahkan mengerjakan apa yang sanggup kita kerjakan, bukan menunggu sampai seluruh kekuatan kita menyamai lawan.
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu sanggupi.”(QS Al-Anfal: 60, penggalan ayat)
Dari sini kita kembali melihat pos perjuangan masing-masing. Ada pekerjaan yang memerlukan ilmu, ada yang membutuhkan tenaga, dana, atau ketekunan dalam berkhidmat. Kita perlu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, sambil merapatkan barisan. Surah Al-Anfal ayat 46 mengingatkan bahwa perselisihan dapat membuat kita gentar dan kehilangan kekuatan. Oleh karena itu, perbedaan peran jangan sampai membuat kita saling meremehkan.
Ketika merasa sendirian, mungkin kita perlu menengok lebih dekat. Ada orang lain yang sedang bertahan di tempatnya, dengan ujian yang tidak selalu kita ketahui. Kita bisa saling menguatkan, berbagi pekerjaan, dan mengingatkan ketika ada yang mulai kehilangan arah. Semoga dari sana rasa asing itu berkurang, dan kita kembali mampu melanjutkan apa yang menjadi bagian kita.
Kita belum mengetahui kapan seluruh harapan itu akan Allah perlihatkan. Namun, hari ini masih ada amanah yang dapat ditunaikan, ada ketaatan yang perlu diperbaiki, dan ada saudara yang membutuhkan pertolongan. Kita kerjakan itu sambil terus berdoa. Semoga Allah menjaga kita dalam kesabaran, menerima ikhtiar yang telah diberikan, dan meneguhkan keyakinan bahwa perjuangan di jalan-Nya tidak sia-sia.
*Atina Ummu ‘Ali
Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA)

Komentar